HypnoLangsing, Cara Baru Jadi Langsing

Rabu, 28 April 2010
Diposting oleh Inspirasi

Menurunkan berat badan dengan makan apa saja dan kapan saja. Demikian salah satu tulisan yang menggoda dalam buku The Screet of Slimming dengan Hypnolangsing karangan Juli Triharto. Buku ini seolah menjadi jawaban bagi Anda yang ingin sehat dan langsing dengan mudah dan cepat.

Seringkali penyebab utama gagalnya usaha penurunan berat badan datang dari diri sendiri, misalnya tak kuasa menolak traktiran makan atau niat berolahraga runtuh dengan mudah hanya gara-gara mata masih mengantuk. Mungkin, ini saatnya Anda memerlukan bantuan. Alternatif bantuan yang saat ini sedang naik daun adalah hypnolangsing.

Menurut Juli Triharto, tekad yang besar untuk langsing saja tidak cukup. Perlu kemauan pikiran bawah sadar untuk mengimajinasikan tubuh ideal yang ingin dicapai dan menyimpan memori tersebut di pikiran bawah sadar sebagai target pribadi.

Lewat metode hipnosis, para pembaca diajak untuk belajar mendapatkan tujuan bawah sadarnya sehingga yang terjadi adalah pikiran bawah sadar akan membantu mengubah kebiasaan lama yang membuatnya gemuk menjadi kebiasaan baru yang melangsingkan.

Penulis adalah Master HypnoLangsing yang memiliki acara kelompok terapi hypnolangsing dengan peserta dari berbagai kalangan. Dalam setiap sesi pertemuan, Juli akan mengajarkan langkah-langkah konkret dan sederhana untuk melangsingkan tubuh sehingga peserta tetap mudah memahami sugesti yang diberikan dalam keadaan waking (terbangun).

Dalam hypnolangsing semua proses dilakukan dengan pendekatan Western Hypnosis dan Neuro Linguistic Programming (NLP) yang sangat ilmiah dan tidak melibatkan ritual atau mantra. Dengan hypnolangsing, Anda akan diajarkan untuk memprogram pikiran Anda dengan kebiasaan baru yang sehat.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini Anda akan memahami bagaimana menghentikan kebiasan ngemil dan terobsesi terhadap makanan, menghentikan makan secara emosi, meningkatkan metabolisme tubuh, menciptakan motivasi untuk berolahraga, serta belajar merasakan nyaman dengan tubuh sendiri.

Teh Hijau Atasi Tumor Jinak di Uterus

Kamis, 22 April 2010
Diposting oleh Inspirasi

Pernahkah Anda mengalami periode haid yang lama dan diikuti rasa nyeri atau tekanan pada perut bawah? Jika iya, maka Anda mengalami fibroid atau tumor jinak yang tumbuh pada dinding dalam uterus. Kondisi tersebut merupakan hal umum yang dialami sekitar 20-40 persen wanita di atas usia 40 tahun.

Fibroid disebut juga sebagai leiomioma, mioma atau fibrimioma. Kondisi ini dapat menyebabkan haid dengan perdarahan banyak sehingga menimbulkan anemia akibat kekurangan zat besi. Selain itu juga menyulitkan pembuahan dan dapat menyebabkan keguguran atau hambatan ketika melahirkan.

Kadang-kadang, jika fibroid yang menempel pada dinding uterur terpelintir sehingga tidak mendapat pasokan darah. Jika ini terjadi akan timbul rasa nyeri tajam pada perut bagian bawah secara tiba-tiba. Situasi ini membutuhkan pembedahan cepat untuk mengakat fibroid.

Namun jika fibroid tidak memberi gejala, dokter hanya akan menganjurkan untuk "melihat dan menunggu". Jika timbul gejala, dokter akan memberi pengobatan atau menyarankan pembedahan.

Riset yang dilakukan Dong Zhang dan timnya dari Meharry Medical College di Nashville, Amerika Serikat, menemukan ekstrak teh hijau bisa membunuh sel-sel fibroid. Hasil penelitian awal ini dilakukan pada tikus percobaan.

Dalam riset tersebut tikus-tikus yang terlebih dahulu disuntik dengan sel fibroid diberikan epigallocatechin gallate (EGCG) yang diekstrak dari polifenol dalam teh hijau. Setelah 8 minggu mengonsumsi EGCG ditemukan sel-sel tumor menjadi mengecil, bahkan ada satu tikus yang tumornya menghilang.

Hasil riset ini memberi harapan bagi penderita fibroid. "Banyak wanita yang menderita fibroid harus kehilangan waktu produktifnya karena penyakit ini. Kami berharap konsumsi EGCG dalam jangka panjang bisa menahan perkembangan tumor," kata Ayman Al-Hendy, MD, PhD, direktur Clinical Research dari Meharry.

Mau Kurus? Tinggal di Pegunungan Aja!

Kamis, 15 April 2010
Diposting oleh Inspirasi

Sudah mencoba berbagai program diet, tetapi jarum timbangan tak juga bergeser? Mungkin Anda perlu pindah ke dataran tinggi. Studi awal menunjukkan bahwa berpindah ke dataran tinggi efektif mengurangi berat badan.

Secara mengejutkan, berat badan 20 responden yang obesitas turun secara signifikan setelah mereka diminta para peneliti untuk tinggal di daerah pegunungan selama beberapa minggu. Para ahli sejak lama telah mengetahui tinggal di dataran tinggi berkaitan dengan penurunan berat badan. Namun studi tersebut melibatkan para pendaki atau pemain ski yang aktif secara fisik.

"Kami ingin melihat apakah tinggal di dataran tinggi bisa mengurangi berat badan meski tidak ada perubahan dalam aktivitas fisik atau pola makan," kata Florian J Kippl, MD, ketua peneliti.

Para responden dalam penelitian ini berusia sekitar 56 tahun dan semuanya obesitas (Nilai BMI-nya 34) dan memiliki risiko terkena penyakit jantung dan diabetes akibat bobot tubuh yang berlebihan.

Para responden yang semula tinggal di Kota Munich, Jerman, ini kemudian dipindahkan ke wilayah pegunungan tertinggi di Jerman, The Zugspitse, dengan ketinggian 8.700 kaki. Mereka menghabiskan waktu selama seminggu di tempat itu.

Selama di gunung, tidak ada larangan untuk makanan atau minuman yang dikonsumsi. Akan tetapi, olahraga yang boleh dilakukan hanya berjalan kaki di dalam rumah. Asupan makanan dan skala kegiatan para responden terus dimonitor. Sebulan setelah para responden kembali ke rumah masing-masing, mereka juga menjalani serangkaian pemeriksaan fisik.

Selama berada di gunung, berat badan para responden turun sebanyak 1,5 kg. Mereka memang makan lebih sedikit kalori, tetapi para peneliti mengatakan bahwa itu bukanlah faktor utama. Ternyata selama di daerah pegunungan mereka lebih aktif secara fisik ketimbang saat berada di rumah. Sebulan setelah penelitian itu pun para responden masih aktif bergerak dan turun beberapa kilogram lagi.

Peneliti mengatakan, berada di dataran tinggi meningkatkan metabolisme dan membuat mereka merasa lebih bersemangat untuk olahraga. "Kami belum mengerti penyebabnya, tetapi untuk orang yang kegemukan, olahraga adalah sesuatu yang berat. Namun, saat berada di pegunungan, kemampuan fisik mereka meningkat," kata Lippl.

Dia mengatakan akan melakukan penelitian lanjutan di daerah pegunungan di wilayah Italia. Data menunjukkan, daerah Colorado merupakan dataran tertinggi di Amerika Serikat. Di sana, jumlah orang yang mengalami obesitas terhitung yang paling rendah.

Obati Penyakit dengan Kembang Kertas

Rabu, 14 April 2010
Diposting oleh Inspirasi
Tanaman kembang kertas memiliki banyak fungsi untuk menyembuhkan penyakit. Banyak jenis penyakit yang bisa disembuhkan menggunakan OBAT HERBAL yang berbahan dasar kembang kertas. Penyakit apakah yang bisa disembuhkan dengan menggunakan kembang kertas? Tentu itu merupakan pertanyaan yang muncul dibenak kalian semua.

Penyakit pertama yang bisa disembuhkan menggunakan kembang kertas adalah penyakit disentri. Apakah anda pernah terkena penyakit yang satu ini?

Penyakit berikutnya adalah kencing nanah, kalau penyakit ini biasanya sering terdapat kepada orang yang suka jajan sembarangan, tidak setia pada satu pasangan. Jangan sampai anda kena penyakit ini.

Nah penyakit berikutnya yang bisa disembuhkan menggunakan OBAT TRADISIONAL berbahan kembang kertas adalah rasa sakit pada putting susu. Penyakit ini biasanya diderita oleh ibu yang sedang menyusui. Untuk cara pengolahan kembang kertas menjadi obat alami yang mujarab akan kita bahas pada artikel selanjutnya, jadi tunggu ya.

Ada Pankreas Buatan untuk Diabetesi!

Kamis, 01 April 2010
Diposting oleh Inspirasi

Para ilmuwan di Cambridge, Inggris, menunjukkan pankreas buatan bisa berfungsi untuk mengatur kadar gula darah pada anak penderita diabetes tipe 1. Hasil penelitian ini merupakan sebuah langkah maju dalam penelitian penyakit diabetes.

Dalam ujicoba tersebut, para ilmuwan mengombinasikan sensor "real time" yang mengukur kadar glukosa dengan pompa yang mengantarkan insulin sehingga mampu mengontrol kadar gula darah dalam semalam. Hal ini secara siginifikan akan mengurangi risiko hipoglikemia (gula darah terlalu rendah).

Diabetes tipe 1 terjadi ketika pankreas hanya menghasilkan sedikit insulin atau tidak sama sekali. Tanpa sirkulasi insulin di dalam darah, gula tidak akan bisa memasuki sel-sel tubuh dan akan tetap berada di dalam darah. Untuk menggantikan insulin yang tidak dihasilkan tubuh itu, penderita diabetes tipe 1 bergantung pada obat atau suntikan insulin.

Dalam riset yang dilakukan di Inggris ini, 17 anak dan remaja penderita diabetes tipe 1 ikut terlibat dalam penelitian selama 54 malam di rumah sakit. Secara umum, alat monitoring glukosa dan pompa insulin yang dipakai dalam riset ini sudah banyak dipakai dan dijual bebas.

Namun, agar sistem monitoring kondisi pasien bisa lebih dalam lagi, para peneliti membuat sistem algoritma yang canggih untuk menghitung jumlah insulin yang disalurkan berdasarkan kadar glukosa saat ini (real time).

Para peneliti lalu mengukur kerja pankreas buatan untuk mengontrol kadar glukosa dibandingkan dengan pasien yang menggunakan pompa insulin. Secara umum pankreas buatan ini mampu menjaga gula darah dalam kadar normal sekitar 60 persen, bandingkan dengan pompa insulin yang hanya 40 persen.

Sejak akhir 1970-an para dokter telah melakukan transplantasi pankreas. Bila transplantasi ini berhasil dilakukan, banyak penderita diabetes tak perlu lagi memakai insulin atau perlu sering mengukur gula darahnya.

Namun, transplantasi tidak selalu berhasil. Selain adanya risiko yang terkait dengan setiap tindakan pembedahan, juga ada reaksi penolakan tubuh terhadap organ baru itu. Karena itu, para dokter lebih menganjurkan penggunaan obat dan perubahan gaya hidup untuk mengontrol penyakit diabetes.

Semoga, dengan keberhasilan uji coba pankreas buatan ini, terbuka harapan bagi para penderita diabetes terhindar dari bahaya akibat tingginya fluktuasi kadar gula darah.