Sayangi Kaki Anda

Senin, 28 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi


Sebanyak 8 dari 10 orang merasakan sakit pada kaki setidaknya satu kali dalam setahun di tahun 2009 kemarin, begitu hasil survei yang dilaporkan American Podiatric Medical Association. Lebih dari setengah responden mengeluhkan sakit pada tumit kaki. Yang lainnya merasakan kaki melepuh, kutil, saraf terjepit, dan cantengan.

Dennis Frisch, DPM, ahli penyakit kaki dari Boca Raton, Florida, mengatakan, "Sakit pada kaki tidaklah normal, namun kebanyakan orang mengabaikannya." Sekitar 35 persen dari mereka yang mengeluhkan rasa sakit pada tumit dalam survei tersebut mengatakan, mereka merasakannya sejak dua tahun atau lebih. Meski, tak ditampik Frisch, kaki akan mengalami rasa sakit seiring bertambahnya usia.

Berikut adalah 6 langkah mudah yang kadang terlewatkan oleh kita mengenai kaki yang aman dari rasa sakit.
1. Perhatikan kebersihan kaki dan pedikur
Masalah kaki amat mudah terabaikan, apalagi ketika Anda tipe yang selalu mengenakan sepatu tertutup. Namun, sedikit perhatian pada kaki bisa memastikan rasa nyaman pada kaki. Pastikan kuku kaki Anda dipotong melintang untuk mencegah cantengan, jangan membiasakan diri untuk mengorek sisi dalam kuku kaki terlalu keras.

Berikan pelembap pada kaki kering, selain untuk membuatnya terasa nyaman, juga untuk mencegah infeksi, karena bakteri bisa masuk melalui kulit yang kering dan terbuka. Karenanya, Frisch menyarankan, ketika Anda ingin pergi ke salon untuk mendapatkan pedikur, bawalah alat-alat milik Anda sendiri. Saat ini alat-alat pedikur sudah tersedia di toko alat-alat kecantikan dan salon.

2. Waspada perubahan akibat penambahan usia
Antisipasikan perubahan pada kaki seiring pertambahan usia. Meski perubahan akibat waktu bervariasi pada setiap orang, namun, rata-rata, kaki kita mengalami perubahan di usia 40-50an. Seiring bertambahnya waktu, kita lemak pada tumit kaki akan terkikis. Ini artinya, kita butuh sepatu yang lebih kokoh. Perubahan artritis bisa mulai terjadi, ibu jari bisa membelok, kuku bertambah tebal, membuat kita lebih mudah untuk terkena cantengan.

Ukuran kaki pun bisa berubah seiring bertambahnya usia. Umumnya, telapak kaki akan bertambah panjang dan lebar seiring otot tendon melemah. Jangan terkejut jika kaki Anda mengalami perubahan ukuran, pastikan Anda selalu mengukur kaki Anda setiap sebelum membeli sepatu.

3. Gunakan sepatu yang ukurannya tepat dan sesuai dengan aktivitas
Ketika mencoba menggunakan sepatu, pastikan sepatu tersebut tidak membuat kaki Anda tertekuk di dalamnya. Ukuran sepatu bisa berbeda dari merek ke merek. Karenanya, adalah hal yang bijaksana untuk selalu mengukur kaki Anda terlebih dulu di toko tempat Anda akan membeli sepatu tersebut. Belilah sepatu di sore atau malam hari, karena di waktu-waktu tersebut, kaki Anda berada dalam ukuran terbesarnya.

Jika Anda ingin membeli sepatu olahraga, entah itu untuk berjalan, berlari, atau aktivitas olahraga lain, carilah yang memang dibuat secara spesifik untuk kegiatan tersebut. Sepatu untuk berjalan, misalnya, memiliki fitur yang berbeda dari sepatu untuk berlari. Begitu juga jika kaki Anda memang sudah memiliki masalah, bicarakan dengan dokter kaki Anda mengenai sepatu yang paling tepat. Jangan lupa untuk membaca informasi mengenai spesifikasi sepatu sesuai kegiatan yang diperuntukkan.

4. Berikan sokongan pada lengkung di telapak kaki
Para spesialis kaki seringkali menyerukan akan pentingnya sokongan pada bagian melengkung di bagian telapak kaki. Namun, ada pula orang yang memiliki telapak kaki merata (tidak memiliki lengkungan). Kaki yang rata justru butuh sokongan yang lebih. Bicarakanlah pada dokter kaki Anda untuk memastikan Anda mendapatkan sepatu yang nyaman dan tepat untuk kondisi kaki Anda.

5. Hati-hati sepatu dengan hak tinggi, juga sendal jepit
Sepatu wanita yang memiliki hak lebih dari 3 inchi mungkin akan terlihat glamor, namun, para ahli penyakit kaki sangat tidak menyarankan untuk menggunakan sepatu ini. Jika memang perlu, sebaiknya hanya mengenakan sepatu yang memiliki hak tinggi pada kesempatan-kesempatan tertentu saja, dan jangan menggunakannya sambil berdiri berjam-jam.

Hak tinggi memang terlihat seksi dan cantik, namun bisa sangat jahat pada kaki. Semakin tinggi hak yang dikenakan, makin besar tekanan yang ditempa pada tumit kaki. Jika Anda melihat ada kemungkinan friksi yang bisa makin parah jika Anda mengenakan sepatu yang sedang Anda gunakan, segeralah kenakan plester sebelum tambah parah. Seringkali pergesekan pada kaki yang membuat kaki melepuh, terjadi pada sepatu tertutup atau pada bagian tumit.

Salah satu yang menjadi perhatian para ahli penyakit kaki adalah sandal jepit. Jika Anda terlalu sering menggunakan sandal jepit, Anda akan membahayakan kaki. Pasalnya, sandal jepit tidak memberikan proteksi cukup, tak ada sokongan pada kaki, dan tidak menyediakan stabilitas. Sandal jepit boleh dikenakan, asalkan jangan mengandalkan sandal jepit saat Anda banyak berjalan. Jika memang harus sering menggunakan sandal jepit, disarankan untuk mencari yang memiliki sokongan pada bagian melengkung telapak kaki.

6. Bertelanjang Kaki
Bagi Anda nyang memiliki kaki bebas masalah sesekali berjalan dengan bertelanjang kaki masih diperbolehkan di lokasi yang aman, asalkan telapak kaki Anda masih menyimpan lemak dan tidak ada kulit retak. Namun, jika memang sudah ada masalah, sebaiknya jangan berjalan bertelanjang kaki.

Perhitungkan lokasi tempat Anda ingin berjalan bertelanjang kaki, seperti kamar mandi fitness center yang bisa menularkan jamur pada kaki, atau ruangan yang penuh rumput, karena Anda tak bisa melihat benda tajam di bawah rumput yang bisa saja menyakiti kaki Anda. Begitu pun kondisi kesehatan, misal, orang yang menderita diabetes, sebaiknya menghindari berjalan kaki tanpa alas kaki, karena kondisi diabetes bisa saja memiliki masalah saraf yang membuat mereka tak bisa merasakan kondisi pada kakinya, ditambah lagi, memiliki penyakit ini membuat seseorang sulit melawan infeksi pada kakinya.

Gorengan Bikin Lemak Baik Jadi Jahat

Selasa, 22 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi


Lemak, meski cenderung dihindari, sebenarnya mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, perlu dikenali apakah lemak tersebut golongan yang baik atau yang jahat untuk tubuh. Lemak baik seperti pufa (lemak tak jenuh ikatan ganda, atau lemak esensial) bisa menjadi lemak jenuh atau safa (lemak jahat).

Asupan pufa bisa dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel. Namun, lemak baik ini bisa menjadi jahat jika cara memasaknya keliru, yakni dipanaskan dengan suhu tinggi.

Dr Ratna Djuwita Hatma, MPH, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) mengatakan, cara masak yang keliru bisa mengurangi komposisi asupan pufa dan menambah asupan safa.

"Manfaat pufa hilang saat makanan digoreng. Sebaiknya kukus atau rebus makanan agar tidak menambah komposisi safa dalam makanan," papar dr Ratna pada media workshop "Pentingnya Peran Lemak Esensial bagi Tumbuh Kembang Anak" yang diselenggarakan Alchemy beberapa waktu lalu.

Dr Ratna menunjukkan hasil survei yang mengambil sampel etnis Minangkabau, Jawa, Sunda, dan Bugis bahwa komposisi asupan lemak dari pola makan mereka sudah seimbang. Hanya saja, survei yang dilakukan terhadap perempuan di atas 18 tahun ini menunjukkan bahwa asupan pufa masih kurang optimal.

Makanan mengandung lemak esensial yang paling sering dikonsumsi empat etnis ini adalah tempe, tahu, ikan, dan telur. Sedangkan kacang-kacangan serta buah dan sayuran yang mengandung pufa masih minim jumlah konsumsinya.

"Kurangnya asupan pufa menggambarkan kurangnya asam lemak esensial. Hal ini merupakan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, hiperkolesterol, dan hipertensi," ujar dr Ratna memaparkan hasil penelitiannya.

Ganti Asupan Gula dari Buah

Minggu, 13 Juni 2010
Diposting oleh Inspirasi


Konsumsi gula dan makanan manis yang berlebihan pada anak menyebabkan mereka kekurangan gizi. Karena makanan manis mengandung kalori tinggi namun hanya mengandung zat gizi rendah. Belum lagi ancaman penyakit gigi berlubang yang seringkali terjadi pada anak-anak.

Dampak negatif dari gula dan makanan manis seperti permen, cokelat, atau es krim, perlu diperhitungkan. Terutama pada masa pertumbuhan optimal anak pada tiga tahun pertama. Pada masa ini, pola makan yang baik harus mulai dikenalkan sejak anak mulai mengonsumsi makanan padat di luar ASI, yaitu sejak usia 1 tahun.

Dokter spesialis gizi klinik, dr Fiastuti Witjaksono, SpGK, mengutarakan konsumsi gula masih dibolehkan dengan batas 3 - 5 sendok makan per hari. Gula memang diyakini mampu menambah tenaga, misalnya dalam teh manis yang sering menjadi minuman favorit pelepas dahaga. Namun, pastikan jumlah gula yang dikonsumsi setiap harinya tak melewati batas yang diperbolehkan.

Namun, Fiastuti menyarankan untuk mulai mencoba mengganti asupan penambah tenaga ini dari buah-buahan, seperti pisang.

"Rasa manis dari buah lebih sehat daripada gula. Jadi jika ingin makan manis, makanlah buah," papar Fiastuti, usai media workshop tentang "Pentingnya Peran Lemak Esensial bagi Tumbuh Kembang Anak" di Jakarta, Kamis (6/5/2010) lalu.

Pemanis lain seperti madu, menurut dokter yang berpraktek di Semanggi Specialist Clinic ini tak berarti mengurangi konsumsi gula. Begitupun dengan gula rendah kalori. Jika dikonsumsi berlebihan, dampaknya tetap tidak baik, terutama bagi perkembangan gizi anak. Apapun pemanis yang Anda gunakan, pastikan takarannya tak melebihi lima sendok makan setiap harinya.

0 komentar

Posted in